Gelang Milenial Penopang Kemandirian_Daarul Quran Tangerang

Posted Januari 27th, 2020 in Article, News

Silaturahim pagi ini dengan mas Anwar Sani di Institut Daarul Quran (iDaqu) @ Adh Dhuha Building Pesantren Daarul Quran, Tangerang. Saya diajak berkeliling Pesantren Daarul Quran, ada yang boarding asrama dan ada yang full day school. Adh Dhuha Building terdiri dari kantor, sekolah dan asrama. Mulai dari KB, TK, SD, hingga SMA, semuanya bernuansa Quran maksudnya selalu ada target setoran hafalan Al Quran (murajaah), luar biasa. Dibangun pula saung-saung di atas kolam ikan yang sejuk dan rindang, nyaman untuk memasukkan lantunan ayat-ayat ke dalam qalbu dan pikiran.

Meniru kemandirian ala pesantren Gontor dan As Salam yang lebih senior, semua kebutuhan santri Pesantren Daarul Quran ini dipenuhi dari unit bisnis mandiri yang dikelola oleh para santri juga. Ponpes yang didirikan oleh Ust Yusuf Mansur ini memiliki berbagai unit kemandirian berbasis kebutuhan santri yang tinggal di sana diantaranya BMT, Catering, Kantin, Laundry, Mart, Travel dsb. Dari santri untuk santri oleh santri. iDaqu juga sedang membangun kampus, sudah berjalan 1 angkatan dengan 192 mahasiswanya. Maket yang megah dan saat ini sudah berdiri bagian Masjidnya.

Sistem Daqu Cash
Model ekonomi tertutup ala Pesantren yang diterapkan di Pesantren Daarul Quran juga menarik untuk diteladani. Semua cashless, santri atau murid sekolah tidak perlu lagi membawa uang tunai untuk keperluan sehari-hari, tapi menggunakan sistem yang bernama Daqu Cash. Sebuah gelang warna warni dipakai oleh santri dan santriwati yang berisi data siswa dan otentikasi wajah yang terhubung dengan sistem tabungan di BMT. Jadi duit tidak keluar dari pesantren, difasilitasi dengan sistem keuangan syariah ala milenial. Dan yang tambah menarik, gelang ini tahan api dan tahan air. Santri tidak perlu khawatir karna tidak perlu melepaskannya kalo sedang berwudhu.

Model pondok pesantren dengan model asrama dan sekolah terpadu seperti di Daarul Quran ini memiliki captive market yang sangat potensial secara ekonomi. Untuk kebutuhan beras di internal pesantren saja, tiap bulan menghabiskan sebesar 12 ton. Dan belum dioptimalkan di cabang-cabang yang lain. Hal ini tentu saja menjadi sinergi yang baik dengan Agro Daqu, entitas kemandirian milik Daarul Quran yang bergerak di sektor pertanian dan peternakan.

Economic relation semacam ini dapat menunjukkan bahwa kombinasi filantropi pendidikan dan pemberdayaan ekonomi berbasis ZISWAF sangat potensial dikembangkan oleh pengelola amil zakat, dengan syarat kolaborasi yang konsisten, fokus pada kompetensi dan profesionalitas kelembagaan.

Notulensi 16 Januari 2020 Silaturahim dengan Pimpinan Daarul Quran Direktorat Zakat dan Wakaf, M. Anwar Sani
@prasetyow_id

Share the article
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Twitter
    Berikan Komentar Terbaik Anda!