Rejeki Kurma Busuk

Posted Juli 13th, 2020 in Article

Kita pusing memikirkan rejeki karena merasa rejeki hanya bisa kita dapatkan dari satu pintu: bekerja. Padahal, Allah memberikan banyak pintu rejeki kepada kita. Ada rejeki yang dijamin, ada rejeki karena usaha, ada rejeki karena memberi, dan ada rejeki yang diberikan khusus untuk orang-orang bertakwa.

Kota Madinah pernah mencatat sejarah yang menarik. Sepulang perang Tabuk, banyak kurma di Madinah yang busuk karena ditinggal oleh para pemiliknya yang ikut dalam ekspedisi peperangan bersana Nabi.

Dengan maksud menolong para petani kurma agar mendapatkan penghasilan dari kebun kurmanya, seorang dermawan bernama Abdurahman bin Auf mengumumkan akan membeli seluruh kurma busuk yang dimiliki para petani Madinah dengan harga yang sama seperti kurma yang bagus. Maka bersuka citalah para petani kurma atas kedermawanan Abdurahman bin Auf.

Lalu, mau diapakan kurma busuk yang jumlahnya sangat banyak itu? Abdurahman bin Auf belum punya ide. Niatnya memang hanya menolong para petani kurma agar mereka dapat menikmati hasil panennya. Ia tak punya rencana apa pun sampai datang seorang utusan dari raja *Yaman* yang sedang mencari obat untuk mengobati wabah penyakit yang menimpa penduduk Yaman. Menurut ahli kedokteran Yaman, obat untuk penyakit menular itu ada pada kurma busuk! Dan utusan Yaman bersedia membeli kurma busuk milik Abdurahman bin Auf dengan harga sepuluh kali lipat dari harga kurma biasa.

Luar biasa bukan? Pintu rejeki seperti ini tak masuk dalam kalkulasi ilmu manajemen. Rejeki dari memberi ini tak diajarkan para motivator bisnis. Tapi jenis rejeki ini ada di tengah-tengah kita. Hanya orang dengan spiritualitas tinggi dan orang-orang yang pernah mengalaminya yang bisa memahami dan mempercayainya.

Seorang pengusaha Cirebon, sebut saja Amir, pernah merasakan jenis rejeki ini. Dulu, ia berhenti dari pekerjaannya dan ingin memulai bisnisnya sendiri. Di hari terakhirnya bekerja, ia mendapatkan uang sebesar 50 juta dari perusahaan sebagai penghargaan masa kerjanya. Amir bermaksud menjadikan uang tersebut sebagai modal bisnisnya, tapi ia tak tahu bisnis apa yang akan dijalaninya.

Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke masjid untuk melaksanakan shalat. Ternyata di masjid tersebut sedang dilakukan penggalangan dana untuk korban bencana. Amir terketuk hatinya. Ia pun ikut mendonasikan uangnya. Anda tahu berapa yang ia sumbangkan? Lima puluh juta! Ya, dia menyumbangkan seluruh uang yang akan digunakannya untuk memulai bisnis. Entah apa yang dipikirkannya. Amir pun pulang dengan tangan kosong.

Amir mencoba beberapa kali bisnis tapi selalu gagal. Sampai akhirnya, ia mendapat tawaran untuk membangun perumahan di Cirebon dan mulailah kesuksesan menghampirinya. Kini ia menjadi salah satu pengusaha properti yang sukses dan dikenal dermawan.

Jadi pintu rejeki itu banyak. Ada rejeki yang juga didapat dari pintu memberi. Allah menjelaskan pintu rejeki ini dalam al-Qurán :

“… barang siapa yang sedang disempitkan rejekinya, maka infaqkanlah dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani melainkan sebatas apa yang dimiliki. (Jika telah kau laksanakan) maka Allah akan segera megubah kesulitanmu menjadi kemudahan.” (QS 65 : 7)

Aneh kan rumusnya? Rejeki sedang sempit kok malah disuruh berinfaq. Tak logis, logika kita. Tak masuk akal, akal kita. Tapi, begitulah rumus dari Allah. Inilah hukum Give and Get. Berikan dulu, baru Anda dapat. END

Tulisan ini merupakan versi tertulis dari materi pelatihan saya yang berjudul Move On: Seni Meraih Sukses dan Hidup Bahagia, dibuat menjadi tulisan berseri agar bisa dinikmati lebih banyak orang. Jika tertarik mengikuti pelatihan ini, silakan kontak IMZ Consulting di 021-7418607 / 0852.1564.6958 atau kontak@imz.or.id

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga _social enterprise_ yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang leadership, pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Share the article
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Twitter
    Berikan Komentar Terbaik Anda!