Memaksimalkan Dampak Program Community Development

Posted Juni 22nd, 2020 in Article

“Dalam hal mengukur dampak program, kami telah melakukan beberapa kajian diantaranya Indeks Kepuasan Masyarakat, kajian Multiplier Effect dan SROI, terutama terhadap dua program unggulan kami. Aktivitas pelaporan menjadi sangat penting, supaya tidak loncat-loncat, hingga tidak tahu progressnya”, penjelasan sesi pertama dari Nana Sutisna, Social and Environmental Specialist JOB Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi.

“Meskipun program produktif penting, tetapi program karitatif (penyaluran sosial langsung habis) tidak dapat dihilangkan. Kebutuhan komunitas di lapangan perlu dilihat konteks dan prioritasnya. Program CSR (Coorporate Social Responsibility) harus tetap berjalan. Demikian pula dengan merawat atau memaintenance komunitas, bahkan setelah project nya selesai. Ini tantangan dalam mengelola community development (pengembangan masyarakat).

“Program unggulan kami diantaranya Rumah Pemberdayaan Siboli dan Kampung Herbal Sinorang. Ini merupakan model program kewiraushaan berbasis herbal. Nilai SROI-nya mencapai 1:5,91. Telah berjalan selama empat tahun, kebutuhan akan kesehatan di masyarakat setempat sangat diterima dengan baik. Melalui program ini, dapat memberdayakan kaum perempuan sangat luas. Kini telah ada herbalis 1 orang yang memiliki sertifikasi resmi. Dia menjadi penggerak dengan cakupan 1 kecamatan di sekitarnya.

Nilai dampak, merupakan catatan penting dalam SROI. Dampaknya banyak sekali yang dapat kita record. Awalnya dari hanya ekonomi, kemudian meningkatnya ke aspek kekeluargaan, dsb.

Kami juga melakukan pendekatan masyarakat melalui Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak. Selama lima tahun berjalan, program ini meraih Excellence in Provision of Literacy & Education penghargaan Silver dalam CSR Global Award 2019 yang lalu. Pertumbuhan literasi anak sangat meningkat. Nilai SROI 1:1,16. Kini semakin banyak kegiatan yang fokus pada pertumbuhan kreatifitas anak. Model semacam ini sangat layak untuk dikembangin.

CSR bukan obat untuk mengobati protes demo masyarakat pada perusahaan. Itu hanya bagian dari komunikasi. Ketika hal itu mengganggu operasi perusahaan, itu jadi catatan. Pengukuran semacam ini sangat bermanfaat karena dapat menjadi ‘jembatan komunikasi’ ke pihak manajemen dan juga masyarakat”.

Sessi kedua dibawakan oleh Maria R. Nindita Radyati, Ph.D., Sustainability and Executive Director, CECT Universitas Trisakti, menurutnya:

“Global citizen, saat ini tidak akan bisa terlepas dari permasalahan dunia. Misalnya, untuk export makanan harus sudah ada sertifikasinya. Bagi yang punya tanaman, semua ada standarnya. Sekarang kita harus mengikuti standar dunia jika ingin berpartisipasi dalam persaingan global. Tidak bisa kita hidup dalam ‘silo’. Perang di negara lain, ada dampaknya ke negara tetangga lain. Maka dia akan membawa budaya dan kebiasaan yang belum tentu cocok.

Bagi yang membeli saham. Apa dulu bisnisnya. Apakah rentan dengan perubahan iklim. Misalnya, perusahaan elektronik bisa terpengaruh dengan persoalan kesehatan seperti COVID-19 ini, termasuk Impor supply row material dari Cina terpaksa berhenti. Belum lagi dari itali, atau belum dari negara lainnya. Kondisi ini menunjukkan kaitannya dengan keputusan membeli saham, dimana perlu dipertimbangkan non-financial aspek. Itulah mengapa ‘Social Value’ menjadi sangat penting.

Social dalam bahasa indonesia, diartikan sebagai bantuan, donasi, atau memberi gratis. Tapi dalam dictionary bahasa Inggris, berarti isu-isu non ekonomi yang dihadapi masyarkat, termasuk lingkungan hidup, kesehatan, kerukunan, dsb. Itu semua masuk dalam aspek social. Oleh karena dalam bahasa Indonesia kata “sosial” diartikan sebagai sumbangan, donasi, dsb maka mindset-nya begitu mendengar terminologi CSR langsung diartikan sebagai sumbangan Cuma Soal Rupiah. Sehingga tidak merasa ada ‘value’ diluar itu. Tidak ada hubungannya dengan bisnis. Maka diperlukan aspek-aspek lain yang bisa mengukur. ROI itu penting, tetapi SROI juga penting”.

Maria terus melanjutkan dengan menjelaskan bahwa kini 3P menjadi 5P: People, Prosperity, Planet, Partnership, Peace. Dignity, manusia diperlukan, dimana manusia perlu “di-wongke”.

“Tak sekedar jadi buruh aja, tapi juga menjadi bagian owner dari bisnisnya. Apakah program CSR mampu menciptakan peace. Apakah tumbuh partnershipnya. Misal dengan ikut program arisan, anggota jadi bisa curhat. Apa obat dan solusinya? Aspek-aspek non finansial itulah yang membuat mereka happy. Jika kita sudah mampu mengukur dengan detil impact program community development kita, maka kita dapat mendesain program yang lebih baik. Ini merupakan mekanisme evaluasi supaya bisa membuat planning. Mana yang kita boosting mana yang kita hentikan. SROI hanya salah satu metodenya. Awalnya dari Amerika, trus dikembangkan di UK. Banyak macam metode lainnya.”

Sesi akhir disampaikan oleh Dede Abdul Hasyir, Academia in Sustainability Accounting dari Universitas Padjajaran.

“Ada dua sisi yang perlu dipahami bahwa impact assessment merupakan bagian dari fase monev, dimana terdapat model manajerial POAC, serta terdapat lifecycle sebuah program serta fase monev itu sendiri.

Hal-hal apa yg sudah diinitiate apa yang telah direncanakan sebelumnya. input proses output. apakah ada outcome hingga perlu skill apa saja yang dibutuhkan. Apakah intervensi memberikan dampak-dampak baik yang diniatkan ataupun tidak diniatkan. Apakah ada intervensi posittif maupun negatif yang dapat muncul.

Kompetensi dasar seorang evaluator terdiri beberapa skill diantaranya: penyelidikan sistematis, praktik profesional, manajemen proyek, analisis situasional, praktik reflektif dan kemampuan interpersonal. Jika baru berjalan satu tahun, maka kaji dampak program akan kurang representatif. Minimal kajian dapat efektif mencerminkan hasil ketika sudah berjalan selama tiga tahun.”

Indonesia Social Value Discussion Batch 3 yang diselenggarakan Kamis 12 Maret 2020 yang lalu bertempat di Kampus MM Sustainability Universitas Trisakti di Menara Batavia Jakarta, berlangsung dengan hangat dan meriah. Sebagai catatan, sore itu merupakan hari-hari terakhir sebelum pandemi Covid-19 melanda atau lebih tepatnya pekan terakhir sebelum pembatasan sekolah dan kantor berlaku.

Sejumlah protokol kesehatan telah diberlakukan di penjuru kampus dan ruang acara. Tak menyurutkan semangat keilmuan 57 peserta dari berbagai perusahaan, lembaga, NGO maupun kota. Berikut ini beberapa catatan terkait pemaparan para narasumber. Semoga bermanfaat.

Prasetyo Wibowo
Manager Training and Business Development IMZ
IG @prasetyow_id

Social Value Indonesia

Share the article
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Twitter
    Berikan Komentar Terbaik Anda!