Menunda Kesenangan

Posted Mei 15th, 2020 in Article

Oleh: Fatchuri Rosidin (IG @fatchuri_fatah)
Direktur Inspirasi Melintas Zaman

Psikolog Walter Mischel mengumpulkan sejumlah siswa TK dalam sebuah ruangan di Stanford University untuk diteliti. Kepada mereka, ia berjanji akan memberikan setiap anak 1 buah permen segera setelah ia selesai bicara. Tetapi, kalau mereka mau bersabar menunggu selama 15 menit, ia akan menambahkan bonus 1 permen lagi. Ia pun meninggalkan mereka di ruangan setelah sebelumnya meletakkan permen-permen tersebut di atas meja.
Sebagian anak langsung mengambil permen dan menikmatinya. Sebagian yang lain mencoba bersabar dengan berharap mendapat 2 permen, tapi tak tahan dan akhirnya ikut mengambil permen. Beberapa di antara mereka mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri dengan bernyanyi, menutup mata, menghindar dari ledekan teman-temannya, pura-pura tidur, dan cara-cara lain yang khas anak-anak. Lima belas menit berlalu, dan sang psikolog pun datang dengan membawa permen tambahan untuk mereka yang berhasil menahan keinginannya.
Anak-anak ini diteliti perjalanannya hidupnya: pendidikannya, kehidupan keluarga, karir, dan hubungan emosional dengan orang lain. Ia kemudian menyimpulkan bahwa anak-anak yang ketika kecil berhasil menahan keinginannya tumbuh menjadi orang yang berhasil dalam karir dan rumah tangga, mempunyai kehidupan emosional yang baik, mampu mengatur diri, dan mempunyai hubungan sosial yang matang. Mereka tak mudah menyerah, lebih cakap secara sosial, tegas, dapat dipercaya, punya inisiatif, dan lebih mampu menghadapi kekecewaan hidup (Goleman, 1997).
Sebaliknya, mereka yang tak sabaran berkembang menjadi orang yang kurang dewasa, hampir semuanya punya masalah berat dalam rumah tangga, kegagalan karir, dan kehidupan emosional yang buruk. Mereka keras kepala dan peragu, mudah kecewa, menganggap diri tak berharga, dan masih belum mampu menunda pemuasan sampai bertahun-tahun kemudian. Ternyata, kemampuan menahan diri sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia juga bagian penting dari kecerdasan emosi.
Kemampuan untuk menahan diri dari kesenangan jangka pendek demi tujuan jangka panjang merupakan salah satu critical life skill penting untuk kesuksesan di masa depan. Kemampuan ini sering melekat pada orang-orang yang matang kepribadiannya dan mampu berfikir jangka panjang.
Begitulah kematangan pribadi kita diuji: seberapa mampu kita menahan diri dari kesenangan jangka pendek demi kesuksesan jangka panjang. Outputnya kesuksesan. Maka mengisi waktu dengan belajar sementara ada godaan menonton film atau bermain gadget adalah jalan kesuksesan. Maka menabung dan berinvestasi yang kita prioritaskan dibandingkan menghabiskannya untuk berbelanja online akan membawa kita pada kesuksesan.
Begitu jugalah kematangan iman kita diuji: seberapa mampu kita menahan diri dari kesenangan jangka pendek di dunia demi kebahagiaan jangka panjang di akhirat. Outputnya surga. Maka menahan diri dari makanan yang dilarang Allah meski menggoda selera makan kita itu jalan kesuksesan. Maka bangun di tengah malam untuk bertahajud dan meninggalkan nikmatnya tidur adalah jalan kesuksesan.
Bagi orang beriman, perjalanan hidup itu bukan 60-70 tahun. Karena setelah meninggal, hidup masih berlanjut di alam barzah. Mungkin seribu tahun. Atau dua ribu tahun. Sampai kiamat datang. Setelah kiamat, perjalanan hidup kita masih berlanjut. Kita dibangkitkan dan dikumpulkan di padang Mahsyar yang menurut satu hadits Qudsi berlangsung selama 500 tahun. Padahal lamanya satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun ukuran waktu dunia. Setelah itu, masih ada surga dan neraka yang abadi.
Tapi begitulah kita manusia. Meski mengetahui, tak mudah melaksanakannya. Meski tahu suatu perbuatan tak disukai Allah, kita sering tak mampu menguatkan hati untuk menolak godaannya. Meski mengetahui pahala shalat tahajud atau membaca al-Quran, kita tak mampu berlama-lama melakukannya.
Tapi Allah sayang pada hamba-hamba-Nya. Maka Ia hadiahkan kita bulan Ramadhan. Kita diberikan training center untuk melatih kemampuan menunda kesenangan. Kita menahan kesenangan jangka pendek makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita mengurangi waktu tidur dan menggantinya dengan shalat malam. Sebulan penuh; waktu yang sangat cukup untuk membentuk sebuah kebiasaan. Training center ini bahkan dilakukan secara massal oleh satu milyar manusia. Ini revolusi pembentukan kebiasaan yang luar biasa.
Mengacu riset Walter Mischel, para alumni yang lulus training center Ramadhan ini seharusnya berkembang menjadi orang-orang yang berhasil dalam karir dan rumah tangga, mempunyai kehidupan emosional yang baik, mampu mengatur diri, dan mempunyai hubungan sosial yang matang. Mereka tak mudah menyerah, lebih cakap secara sosial, tegas, dapat dipercaya, punya inisiatif, dan lebih mampu menghadapi kekecewaan hidup.
Mungkinkah kita mencapainya? Tergantung keseriusan kita selama mengikuti training center Ramadhan ini. END

Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga social enterprise yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang leadership, pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Share the article
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Twitter
    Berikan Komentar Terbaik Anda!