Burung-Burung Tanpa Sayap

Posted April 16th, 2020 in Article

Kesibukan kita bekerja meninggalkan ruang kosong yang sering tak disadari. Ruang kosong itu adalah semakin sedikitnya waktu untuk kehidupan keluarga. Banyak anak di kota-kota besar yang jarang melihat wajah ayahnya. Saat mereka bangun, ayah mereka sudah berangkat bekerja. Saat mereka beranjak tidur, ayah mereka belum sampai di rumah. Inilah fenomena fatherless country; negeri di mana anak-anak kehilangan sosok ayahnya.

Kalau sang ibu juga bekerja full-time, makin sedikit lagi waktu anak-anak mendapatkan kebersamaan dengan orang tuanya. Tugas mengasuh dan mendidik akhirnya dialihkan ke pembantu rumah tangga yang lebih banyak berfokus pada kebutuhan fisik: menyiapkan makan, memandikan, dan memastikan anak tidur siang.

Saat orang tua pulang ke rumah, anak yang masih kecil akan menyambutnya dengan sangat gembira. Orang yang paling mereka rindukan sepanjang hari akhirnya tiba di rumah. Sudah terbayang dalam benak anak ia akan bermain bersama orang tuanya, bermanja-manja, mendengarkan dongeng seru yang merangsang imajinasinya, dan mendapatkan kesempatan di mana ia bisa menceritakan keluh kesahnya seharian itu.

Sayang, impian itu terlalu muluk. Ayah dan ibu mereka terlalu lelah. Beban pekerjaan yang berat dan perjalanan pulang yang melelahkan telah menguras energi mereka. Mereka tiba di rumah dengan tenaga sisa dan berharap bisa beristirahat tanpa beban baru di rumahnya. Bermain bersama anak, mendongeng, dan mendengarkan celotehnya terlalu berat untuk mereka lakukan dengan sisa tenaga yang ada. Para ibu yang tidak bekerja di luar rumah dan fokus dengan tugas domestik pun tak kalah lelah. Mereka ibarat telepon genggam yang sudah low-bat dan perlu segera di-charge. Anak-anak pun kecewa.

Dalam banyak kasus di lima tahun terakhir, gadget menjadi solusi short cut orang tua agar anaknya bisa bermain sendiri tanpa mengganggu orang tuanya. Dan berhasil. Anak mendapat keasikan baru. Satu jam. Dua jam. Lima jam. Dan jadilah gadget orang tua baru bagi mereka. Orang tua merasa terbantu, tapi tak sadar mereka sebenarnya sedang merusak otak anaknya sendiri.

Riset yang dilakukan oleh Childwise, lembaga riset yang fokus pada masalah anak dan remaja, menggambarkan kondisi ini. Penelitian di tahun 2015 yang mereka lakukan menemukan bahwa anak-anak menghabiskan waktu rata-rata 6,5 jam bermain gadget setiap harinya. Anak remaja laki-laki bahkan sampai 8 jam sehari. Padahal, untuk perkembangan otaknya, anak usia di bawah 2 tahun belum boleh menggunakan gadget, usia 2-6 tahun maksimal 1 jam, dan usia di atas 6 tahun maksimal 2 jam.

Bagaimana dengan di Indonesia? Di RSJ Cisarua Jawa Barat saja ada 206 pasien anak yang pernah dirawat karena kecanduan gadget, khususnya game online. Rata-rata 19 pasien per bulannya. Usianya berkisar antara 7-15 tahun, bahkan ada yang usia 3,5 tahun!

Pengaruh penggunaan gadget yang berlebihan pada anak bukan hanya merusak perkembangan otak, tapi juga menghambat pertumbuhan skill sosial yang mereka butuhkan untuk bisa sukses dalam karir dan masa depan. Itu belum menghitung efek dari content yang diakses anak-anak seperti pornografi dan kekerasan.

Gadget akhirnya menjadi ‘pengasuh’ baru untuk anak-anak, menggantikan peran orang tua. Hubungan anak dengan orang tua mereka di keluarga menjadi jauh. Anak tak lagi banyak bercerita tentang hari-hari mereka ke orang tuanya. Rumah tak lagi asik untuk mereka. Saat usia remaja, mereka tenggelam dalam gadget-nya atau menemukan lingkungan dan kegiatan yang lebih menyenangkan di luar rumah bersama teman sebaya.

Dari pergaulan teman sebaya ini, muncullah problem baru: merokok, narkoba, mengakses konten pornografi, kenakalan remaja, hingga perbuatan kriminal. Saat ini terjadi, orang tua kaget dan heran kenapa bisa terjadi. Padahal, orang tualah yang jadi penyebab awalnya.

Bukankah kita bekerja pergi pagi pulang malam untuk keluarga? Kalau ternyata anak-anak kita merokok, narkoba, kecanduan game online dan pornografi, terlibat dalam kenakalan remaja, hingga perbuatan kriminal, sepadankah itu dengan karir dan penghasilan kita? Bisakah kita sukses dalam karir juga diikuti sukses di keluarga?

Di hari-hari saat kita ‘dipaksa’ untuk #dirumahaja, mari manfaatkan untuk mengisi kembali ruang kosong dalam pendidikan anak-anak kita. Mereka tak hanya butuh uang kita, mereka butuh kehadiran kita. Jangan jadi ayah yang hanya berfungsi sebagai ATM yang didatangi anak saat ia butuh uang. Jangan mau hanya jadi ibu yang fungsinya hanya jadi baby sitter; sekedar menyiapkan mereka makanan dan mengecek belajar.

Ibarat burung, anak-anak kita butuh dua sayap untuk bisa terbang. Kedua sayap itu adalah ayah dan ibunya. Dari ayah dia butuh pelajaran tentang logika, keberanian, ketegasan, kerja keras, tanggung jawab, kepemimpinan, dan sikap melindungi. Dari ibu dia butuh pelajaran tentang kepekaan, empati, dan kasih sayang. Ayah dan ibu perlu hadir keduanya dalam pendidikan anak. Karena anak-anak kita tak bisa terbang menaklukkan angkasa tanpa kedua sayapnya. END

* Tulisan ini merupakan versi tertulis dari materi pelatihan saya yang berjudul Move On: Seni Meraih Sukses dan Hidup Bahagia, dibuat menjadi tulisan berseri agar bisa dinikmati lebih banyak orang.

* Inspirasi Melintas Zaman (IMZ Consulting) merupakan lembaga social enterprise yang membantu organisasi profit dan nirlaba di bidang leadership, pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai spiritual.

Oleh: Fatchuri Rosidin (IG @fatchuri_fatah)

Direktur Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)

Share the article
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Twitter
    Berikan Komentar Terbaik Anda!